Jumat, 20 Mei 2011

Kado Terindah Untuk Sang Putri Impian

Sore hari yang sepi. Gerimis mulai turun, namun aku masih tetap berdiri di depan sekolah. Sulit rasanya untuk menerobos rintik-rintik hujan itu. Hal yang melelahkan. Saat seperti ini, terkadang aku bermimpi akan ada seorang pangeran yang menjumputku, memberiku seikat bunga dan kata cinta.
“Putri…!” sebuah suara membuyarkan semua lamunanku. Clara telah berdiri di belakangku. Dengan senyumnya yang khas dan setumpuk buku yang ada di tangannya.
“Kenapa belum pulang?” sambungnya lagi sambil membetulkan kaca matanya.
“Masih hujan” jawabku singkat. Inilah yang membuatku paling kesal, seorang datang dan menghancurkan semua khayalanku.
“Masih menunggu pangeranmu ya?” tanya Clara sambil tersenyum seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Sudahlah Putri… lupakan saja soal pangeran. Lebih baik kamu bantuin aku menyusun makalah ini. Ya… ayolah Putri… tolong aku ya. Tidak ada ruginyakan?”
“Brisik!” ucapku kesal memotong ucapan Clara sambil berlalu dari hadapannya. Aku tidak peduli hijan semakin deras dan pakaianku basah semua.
Ini memang malam Minggu yang tidak ada bedanya bagiku dengan malam-malam yang lain. Aku tetap sendri. Aku tutup buku diaryku. Hanya itu satu-satunya yang setia menemaniku dan mendengarkan kegelisahan, keinginanku untuk menemukan pangeran…
“Putri…! Ayo bangun! Sudah jam 6, nanti kamu terlambat ke sekolah. Ayo Putri…!” teriak ibu dari ruang makan.
“Haa! Jam 6? Ya ampun! Akibat memikirkan pangeran, aku sampai terlambat bangun. Jam 6 pagi, gawat! Aku bisa terlambat, apalagi pelajaran pertama dengan Pak Bowo lagi. Aku bisa dihukum di depan kelas” pikirku. Tanpa disuruh lagi, aku langsung bangun dan mandi. Tidak ada waktu untuk sarapan. Aku segera membereskan semua bukuku.
“Ibu, Pak, Putri pergi ya!” ujarku sambil berlari untuk mengejar bis.
“Hai Putri…, kamu sudah lihat pengumuman di mading sekolah belum?” Clara berbisik ke arahku.
“Pengumuman apa ini Ra?” tanyaku pada Clara.
“Lomba membuat puisi pelajar tingkat nasional…, kamu harus mengikutinya Putri. Ini kesempatan besar”.
Lomba membuat puisi? Mungkin ini memang menjadi kesempatan besar untukku. Tapi apa aku bisa? Hmm, kalau aku menang… tunggu!
“Ra hadiahnya apa?” tanyaku pada Clara dengan penuh harapan.
“5 juta rupiah” ujar Clara sambil mengangkat 5 jari tangannya. 5 juta… aku bisa membantu kedua orang tuaku untuk membiayai adikku sekolah. Aku bisa membeli baju baru, sepatu baru, tas baru. Wah… aku bisa menjadi kaya mendadak dengan uang sebanyak itu. Ibu dan Bapak pasti senang.
* * *
“Hai dik, kalau berjalan jangan seenaknya!” tegur seorang ibu padaku dengan wajah yang marah. Ah… akibat satu syarat untuk mengikuti lomba membuat puisi satu kalimat yang sampai sekarang membuatku menjadi seperti orang gila.
“Puisi dikirim dalam bentuk CD” kira-kira itulah bunyi kalimatnya. Pakai CD? Berarti harus diketik. Dari mana aku mendapatkan uang untuk merental komputer? Harus beli kaset CD lagi! Uang tabunganku tidak cukup untuk semua ini. Aku tidak mungkin meminta pada Ibu dan Bapak. Kenapa tidak ada keringanan untuk diperbolehkan mengirim dengan tulisan tangan? Bukankah ini lomba membuat puisi untuk pelajar se Indonesia?
“Putri…, kamu kenapa?” lagi-lagi Clara sudah berdiri di belakangku.
“Kamu! Kenapa kamu ada di sini?” emosiku semakin memuncak melihat Clara ada didekatku.
“Sabar ya Putri, aku dari tadi memang mengikutimu. Aku tidak mengerti sama sikapmu. Kenapa kamu jadi emosi ini? Kamu kenapa di sini? Dari tadi aku perhatikan. Kamu ada masalah ya? Kenapa kamu tidak pernah cerita masalah kamu sama aku? Aku kan sahabat kamu Putri” tanya Clara padaku dengan banyak pertanyaan yang sempat membuatku bingung.
“Sudahlah Ra, kamu memang sahabatku. Tapi aku paling tidak ingin dikasihani, aku tahu dan aku sadar siapa aku”.
“Putri… kenapa kamu tidak menghilangkan gengsi kamu. Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai orang yang harus dikasihani. Selama ini aku berteman dengan kamu karena kamu sahabatku” ujar Clara padaku.
Aku menarik nafas sesaat. “Ra, sebenarnya aku memang sedang membutuhkan bantuanmu. Tapi aku ragu, apa kamu ingin membantuku. Ra, maafkan aku ya?” ujarku lirih.
“Tidak apa-apa Putri. Sekarang kamu cerita sama aku, apa yang bisa aku bantu. Selagi aku bisa aku akan berusaha untuk membantumu”.
“Mmm… sebenarnya aku malu untuk bercerita”.
“Kenapa harus malu Putri, ayo ceritalah aku kan sahabatmu” ujar Clara padaku.
“Soal persyaratan puisi itu Ra, harus dikirim dalam bentik CD. Aku tidak mempunyai uang untuk membeli kaset CD dan merental komputer. Ra, apa aku harus membatalkan untuk mengikutinya ya?” ujarku pada sahabat ku Clara dengan lirih.
“Putri… Putri… kenapa kamu sulit untuk menceritakan ini dengan aku. Kamu jangan membatalkan dulu. Aku akan membantu kamu untuk mengetik puisi kamu, kamu bisa datang ke rumah aku dan kebetulan aku ada kaset CD kosong milik ayahku. Kamu pakai dulu. Bagaimana?” ujar Clara padaku untuk membangkitkan semangatku.
“Serius Ra? Aduh Ra, terima kasih ya”
Kini langkahku terasa ringan kembali.
* * *
“Kita harus berbangga” Pak Bowo membuka pelajaran kali ini dengan tersenyum ke arahku.
“Seorang teman kalian berhasil masuk 3 besar lomba membuat puisi terbaik tingkat pelajar se Indonesia” Clara tersenyum ke arahku.
“Meski teman kalian tidak berhasil menjadi juara 1 tapi kita harus berbangga dengan prestasi yang dipersembahkannya untuk sekolah kita. Beri tepuk tangan yang meriah untuk teman kalian, Putri…”
“Selamat ya Putri…”
“Kapan-kapan buatkan aku puisi cinta ya Putri…”
Kelas menjadi heboh.
“Hai Putri… selamat ya. Mmm, aku mempunyai banyak buku Sastra tentang puisi. Kalu kamu ingin meminjam, kamu bisa meminjam buku aku” tiba-tiba Samuel mendekatiku.
Oh! Apa ini juga bagian dari hadiah lomba puisi ini. Samuel tersenyum kepadaku dan mengulurkan tanganya untuk mengucapkan selamat kepadaku.
“Teima kasih ya Samuel. Aku tidak tahu harus berkata apalagi, aku senang sekali kamu ingin meminjamkan aku buku kamu”.
“Aku yang harus senang. Mempunyai seorang teman yang sudah bisa mengukir prestasi untuk sekolah ini”. Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Samuel. “Pulang sekolah sama-sama ya Putri?” sambung Samuel lagi.
Wah… wah… hatiku langsung terbang melayang ke angkasa. Pangeranku datang! Ingin rasanya aku melompat saat ini juga. Tapi aku malu, malu pada Samuel yang masih berdiri di sampingku dan menatapku dengan lembut. Duh, tatapan matanya membuatku meleleh seperti cokelat.
Terima kasih Ra, kalu bukan karena kamu aku tidak akan pernah merasakan indahnya pulang bersama dengan Samuel. Mungkin aku juga tidak akan pernah merasakan indahnya jatuh cinta. Dan satu lagi Ra…, ini bukan sekedar impian aku. Ini nyata, satu hal Ra, aku tidak akan menyesal soal uang 5 juta rupiah yang melayang. Aku tahu masih banyak kesempatan yang dapat aku raih lagi. Satu pelajaran yang aku dapat dari kamu Ra…, dibalik ini semua ada suatu makna dalam perjalanan hidup ini. Dan aku percaya itu…